Menginjak awal kepala dua, sang pengkhayal ini mencoba kembali melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan. Awalnya, ia mengira menulis akan mudah. Hanya perlu berpikir, lalu menuangkannya ke dalam kata-kata. Namun, ternyata tidak semudah itu, Ferguso.
Jadi, di sinilah sang pengkhayal akan belajar kembali bagaimana caranya menulis. Apa yang ia buat mungkin tidak sempurna, mungkin menggelikan, atau bahkan berada di luar nalar.
Tempat ini adalah ruang aman bagi sang pengkhayal untuk menuangkan isi kepalanya. Di sini, ia tidak perlu menjadi sempurna. Semuanya hanya untuk dirinya sendiri.