Sanav

Sayangku yang Sudah Tidak Lagi Bersemayam

Sayangku, setelah kuhitung, sudah 1246 hari semenjak aku mengenalmu.

Sayang sekali aku baru menyadarinya sekarang. Akan sangat lucu jika aku mengingatnya tepat pada hari ke-1234.

Saat pertama kali mengenalmu, yang kurasakan adalah benci dan iri. Di mataku, kau begitu anggun, begitu sempurna—gambaran pasangan ideal untuk orang yang kusukai. Terlebih lagi, dia menyukaimu.

Namun, semakin aku mengenal dan memahamimu, kau perlahan menarikku ke orbitmu. Aku tidak bisa melepaskanmu dari pikiranku. Segala hal dalam hidupku selalu kukaitkan denganmu. Aku yakin, bahkan sampai sekarang, temanku masih mengingat bahwa aku pernah sangat mencintaimu.

Kau bersemayam di pikiranku, di kata-kataku, dan abadi dalam karyaku. Perasaanku padamu begitu kuat, sampai aku mengira rasa ini tidak akan pernah berakhir. Akan selalu seperti ini. Selamanya. Hanya aku yang akan selalu mengingat dan mencintaimu.

Tapi ternyata tidak begitu ya, sayangku?

Pada akhirnya, perasaan yang meluap-luap itu bisa meredup. Dan aku tidak menyangka bahwa waktunya akan tiba.

Aku tidak bisa—tidak mau—mengakuinya. Aku takut. Aku takut tidak lagi memiliki perasaan cinta yang menggebu-gebu untukmu. Aku takut suatu hari nanti tidak akan ada lagi yang... mengingatmu.

Aku ingin selalu mengingatmu, mencintaimu, berharap dan mendoakanmu agar di semesta lain yang lebih baik, kau mendapatkan akhir yang bahagia, agar kau hidup lebih baik daripada sebelumnya. Tapi bahkan sampai sekarang, aku belum mewujudkan apa pun dari semua yang kuharapkan untukmu. Semuanya masih tinggal di anganku. Dan kini, cintaku padamu... telah meredup. Entah kenapa, aku merasa bersalah karenanya.

Jika kau tahu keadaanku seperti ini, apa yang akan kau katakan? Apakah kau akan memahamiku? Apakah kau akan memaafkanku?

Apakah kau akan—

...

Sa...-saki. Aku... benar-benar merasa bersalah, cinta ini sudah tidak sama lagi. Dulu, aku selalu menyertakanmu dalam hidupku. Dalam pikiranku, dalam kata-kataku, dalam karya-karyaku. Namun sekarang, membayangkan kau akan bahagia bersamaku terasa seperti sesuatu yang mustahil.

Tapi terima kasih, karena pernah membuatku belajar begitu banyak tentang perasaan ini. Aku tidak menyesal pernah mengenalmu dan mencintaimu.

Mungkin suatu hari nanti, cinta ini akan terpercik dan meluap kembali, siapa tahu? Mungkin, ketika hari itu datang, aku bisa mewujudkan kebahagiaan yang memang pantas kau dapatkan.

Tapi tidak untuk sekarang. Jadi... maaf, ya? Dan terima kasih.

Sampai jumpa lagi, sayangku, Sasaki.